TWEET

Sabtu, 19 April 2014

First Listen Your Voice (ending)



Sehari, dua hari, 3 minggu, 1 bulan. Terbiasa Ara menjalani hari-hari sekolah tanpa Riva. Sebulan yang lalu Ara duduk, berbicara, menangis di samping Zain. Tapi, saat ini Ara sedang duduk di kursi depan kelas bersama ke-6 teman sekelasnya. Tiba-toba Zain lewat di depan mereka. Lagi-lagi Ara hanya dapat memandang. Mereka saling pandang. Jantung Ara berdegup kencang.  Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Padahal sebulan yang lalu mereka sangatlah dekat. Entahlah, ke-6 teman Ara, Ana, Ruri, Avi, Lisa, Eeni memandangi wajah Ara. “ Cieee Ara…”, kata Lisa yang meledek Ara. “Cieee cieee… Ara suka kamu!!!”, teriak Ruri ketika Zain sudah jauh dari mereka. Mereka saling meledek Ara. Ara menahan malu di depan teman-temannya. “Apa sih!”, kata Ara malu.
            “Kring… kring..”, bel pulang sekolah berbunyi. Mereka bertujuh pulang ke rumah masing-masing. Jumat berganti Sabtu. Tugas kelas X MA-1 berlatih untuk tugas upacara minggu depan. Ya,  hari yang cerah. Matahari menyinari bumi. Tiba-tiba gerimis turun menghiasi suasana istirahat siang itu. Indah dipandang. Ara yang suka suasana itu langung beranjak dari kursi tempat duduknya yang berada di depan kelas. Ia mengadahkan ke-2 tangannya ke langit. Ia menyukainya. Tak sadar, Ara melihat Zain menatapnya dari balik kaca jendela kelasnya.ya, karena kelas mereka saling bersebelhan. Ara bahagia. Ia bias menatapnya.meski Ara belum tahu pasti perasaan Zain kepadanya. Tapi, Ara tetap menyukainya. Bahkan rasa suka itu pernah menjadi cinta. Ia tetap menyukai Zain setulus hati.
            Memang bagi Ara menjadi admirer belumlah memuaskan hatinya. Karena baginya Zain adalah semangat belajarnya, semangat sekolahnya. Dua bulan lagi Zain akan mengikuti ujian nasional (UN). Ara sudah merasa cemas bila hatinya merasa sedih ketika mengetahui Zain lulus. Meski itu hal bahagia dan terbaik buat Zain. Karena tak aka nada lagi orang yang disebutnya Angel Without Wings itu. Zain akan pergi meninggalkan sekolah itu. Dan hari-hari sekolahnya pasti akan hampa tanpa melihat dapat menatap matanya. Hampa dan sedih seperti ketika hari-hari sekolah tanpa Riva. Tapi, mau bagaimana lagi? Itu yang terbaik untuk Zain, meski buruk untuk Ara.  Ara menyadari itu. Ia hanya dapat menulis surat yang tak akan pernah ia kasih kepada Zain dan hanya akan ada di dalam diary nya saja.



dear diary

aku menyukaimu, Angel Without Wings. Sebentar lagi kamu menempuh UN. Aku tak ingin kau lulus. Tapi itu buruk bagimu.aku ingin kau tahu perasaanku. Pekalah aku menyukaimu. Meski aku tak tahu pasti perasaanmu kepadaku. Kau adalah my Angel. Aku tak mau jauh darimu. Aku sudah bersyukur dapat pindah ke kelas di samping kelasmu. Aku bahagia. Meski akhir-akhir ini kau berbeda dari yang dulu. Kau lebih acuh, buang muka, tak inigin menatapku lagi. Tapi aku tetap menyukaimu. Dijam dan menit yang kembar, setelah beribadah aku selalu berdoa yang terbaik buat kita. Aku selalu memohon kepada Zat Pemilik Cinta, Allah agar kau tahu dan mengharagai perasaanku. Sejak awal aku mendengar suaramu di UKS, aku sudah merasakan getaran-getaran suka. Ditamabah tanganmu yang menyentuh tanganku kala itu.  Apalagi dulu kita sering saling mentap ketika berpapasan. Tak dapat brbicara. Hanya mata yang berbicara. Aku menyukaimu Angel Without Wings.

ARA