TWEET

Selasa, 18 Maret 2014

First Listen U're Voice (chapter 3)

Ara memasuki rumahnya. Ia berganti pakaian. Ia merasa lelah. Lalu ia berbaring di tempat tidurnya. Sore berganti malam. Malam berganti pagi. Pergantian cahaya terus-menerus. Seperti biasa, Ara yang sudah sehat bergegas berangkat sekolah. Bertemu teman-teman baru adalah hal mengasyikkan baginya. Siswa-siswi yang berjumlah 32 anak itu sibuk deng pembicaraannya masing-masing diwaktu istirahat. Tenang dan cekatan ketika menerima pelajaran . rajin, terampil yang m,ebikin suasan kelas lebih indah. Kleadaan kelas X MA-1 (X Matematika Alam 1). 3 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam. Jam yang berputar. Mengelilingi setiap tepi lingkaran jam. Sorak sorai suara anak-anak SMA setelah keluar dari kelasnya. Begitulah keadaan SMAnya.

Anak-anak SMA Dirga Bhakti 09 bergegas pulang. “Ara, tunggu!”, kata Riva mengejar Ara. “Ya, Riv, kenpa?”, sahut Ara.
“Kamu udah tahu belum, kalau minggu depan tepatnya hari Jumat anak-anak kelas sepuluh sudah  disuruh untuk mengikuti eksul wajib, Pramuka”, jelas Riva.
“Sudah. Memang kenapa?”, jawab  Ara dengan santai.
“Eeh.. enga, engga apa-apa  kok”, jawab Riva dengan wajah malu. Tiba-tiba Zain yang sedang keluar dari parkiran teriak, “Riva! Ayo pulang!” riva menengok kea rah suara itu.
“Kak Zain! Ah, dia itu”, gumam Riva kesal. “Mmmm., Ara aku pulang duluan, ya. Maaf ngga bias pulang bareng naik bis”, pamit Riva kepada Ara yang kebetulan tidak mengendarai sepeda motor  tadi pagi.
“iya, hait-hati, ya”, kata Ara tersenyum mereka berpisah di depan pintu  keluar sekolahnya dan Ara pulang sendirian.

            Hari berganti hari. Hari-hari yang dianggap Ara  penuh dengan hal-hal baru. Ia menyukainya. Jumat, hari dimana anak-anak kelas X menjalani ekskul Pramuka. Kak Zain, ia merupakan Dewan Ambalan angkatan  2012/2013. Mesakipunangkatan 2012/2013, ia tretap mengikuti pramuka untuk  membimbing Dewan Ambalan angkatan 2013/2014. Ketika itu pelajaran tali-temali. DA angkatan 2013/2014 merasa bingung. Zain, salah satu yang ada di sana membantunya. “Kak Zain, ini yang benar gimana?”, Tanya salah satu anggota DA. Zain mempraktekkan sambil menjelaskan cara menyambung tongkat yang benar. Tak disangka, Zain melihat Ara.
“Ehh, kamu Ara, kan yang waktu  itu sakit?”, Tanya Zain kepada Ara. Ara hanya menjawabnya dengan senyum dan anggukkan kepala. Mereka tak berbincang-bincang, karena waktu yang mereka miliki hanya untuk kegiatan Pramuka saja, bukan yang lainnya. Jam berganti jam. Jam 4 sore. Anak-anak pulang dari kegiatan Pramuka itu.

Ara yang pulang  mengendarai sepeda motor bertanya-tanya. Mengapa jantungnya selalu berdegup kencang ketika berdekatan dengan Zain. Ia juga selalu terbayang-bayang wajah Zain.  “Aku menyukainya!”, celetus Ara tak sengaja. “Oh, my God. What happened to me? Whether I love Him?”, kata-katanya di rumah dengan kebingungan, sambil mengadahkan mukanya ke  langit-langit atap-atap.

Ara selalu saja berpapasan dengan Kak Zain. Di pintu parkiran, di pintu gerbang sekolah, di kelas Arad an Zain, dan di hall. Tapi apa yang terjad? Tak sedikitpun terlukis senyum Ara yang manis itu kepada Zain. Mereka hanya saling pandang. Mata menatap layaknya bibir ingin mengungkapkan kata-kata. Tapi, Ara yang benar-benar menyukainya merasa canggung, gugup, deg-degan. Tak sepatah kata pun terucap. Ia ingin sekali berbincang-bincang dengan Kak Zain, tyapi tak dapat. “Oh, my God!”, keluh Ara selalu setelah berpapasan kepada Zain. 

Di rumah Ara sedang mengerjakan PR.  Tiba-tiba, bel rumahnya berbunyi. Ternyata Pak Pos yang mengantarkan surat kepadanya. “Ara, temanku.  Hari-hari sebelumnya aku sakit. Maaf aku tak mengabarimu. Maafkan aku jika selama kita berteman aku telah menggoreskan hatimu dengan kata-kataku. Aku sudah pindah sekolah di Jakarta, karena aku harus berobat di sini. Entah kenapa harus di Jakarta. Aku bingung dengan keluarga ini. Tak satupun dari mereka member tahu penyakit yang kuderita ini. Ara, temanku, kau sudah aku anggap sebagai sahabatku. Jangan lupa kepadaku, ya, jika aku kembali nanti. Tapi, kamu tak usah kawatir, bukan berarti aku pindah, Kak Zain juga ikut pindah. Ia tak mau pindah. Tanggung katanya. Ia tetap menjagamu kok. –RIVA– “ 
   
Ara kaget. Ia merasa bersalah kepadanya.mengapa ia tak mencari tahu keadaan Riva. Ara meninggalkan PRnya. Ara mencari hp ke kamarnya. Segera Ara mengirim pesan kepada Riva. “Kamu kenapa? Maafkan aku. Aku tak menyadari jika kamu tak bersngkat sekolah akhir-akhir ini. Setelah kita tak sekelas lagi karena ada siswa yang pindah, aku jadi tak tahu kabarmu… Balas.” Ditunggu, ditungu, dan ditunggu. Bermenit-menit tak ada balasan. Tiba-tiba, pesan masuk di hpnya. “Ini aku, Zain.  Riva menyuruhku membawa hpnya”, pesan masuk dari Zain menggunakan nomor hp  Riva. Bertambah kecemasan Ara. Ara diam, diam, dan diam. “Teman macam apa aku ini!”, kata Ara menyalahkan dirinya.

Hari-hari sekolah Ara terasa hampa tanpa Riva. Tak ada Riva yang selalu menemaninya ketika istirahaaat. Walau merwka berbeda kelas, tetapi merka tetap selalu bersama.  Berhari-hari ia menunggu kabar Riva. Hingga 2 minggu.
Waktu itu, “Ra!”, teriak Zain dari arah belakang Ara.
 Ara menengok ke arah suara itu. “Kak Zain! Ada apa?”     
“Riva… meninggal kemarin sore”, jelas Zain kepada Ara.
Ara yang waktu itu lelah dan langsung ingin cepat pulang ke rumah shock mendengar kabar dari Kak Zain. Sahabatnya meninggal di ibu kota.  Ia tak bias melihat wajah saat terkhirnya. Ia tak bisa mengantarnya ke pemakaman. Ia terduduk lemas di kursi hall sekolahnya. Events  yang dulu pernah jalani mulai dari MOS hingga seminggu sebelum Pramuka, candanya mereka ketika pulang bersama dengan bis, manjanya Riva. Semua ter-flashback di memori Ara. Air matanya mengalir semakin deras. Ia berusaha membendung air matanya. Tapi, tak bias. Ia berlari menuju lapangan basket. Ara menangis tersedu-sedu. Zain mengejarnya. Zain sabar dan kuat. Adiknya yang meninggalkannya untuk selamanya, yang selalu manja dengan Zain. “Kak Zain ajarin matematika”, “Kak Zain ke rumah Ara, yuk”, “Kak Zain bagaimana ini?” kata-kata Riva yang tak dapat terlupakan oleh Zain. Hari-hari Riva bahagia setelah bertemu Ara.  Zain haruis merawat Ara seperti merawat Riva sendiri. Riva menitipkan sepucuk surat untuk  Zain. Surat itu berbunyi,
“Kak Zain… gimana kabarmu? Gimana kabar Ara? Apa dia masih canggung berbicara denganmu? Kak Zain, Riva udah lelah. Riva pengen ketemu kalian di Jogja. Riva kangen. Riva pengen kembali ke sana. Riva kangen kalian….”

            Zain si kuat, berhasil membendung air matanya. Ia menenangkan sahabat adiknya. Zain mengusap air mata Ara dengan tangannya. Zain mengasihinya seperti adikknya. “Kamu harus kuat, Ra! Kamu ngga boleh menangisinya. Riva udah tenang di sana”, kata Zain yang sedih menenangkan Ara.perlahan Ara berhenti menagis.
“Ia sakit apa, Kak?”, tanya Ara kepada Zain.
“Leukimia. Empat tahun ia menderita. Kamu yang sudah bikin Riva  bahagia di sini”, jelas Zain kepadanya.
“Apa yang terjadi Tuhan? Apa ini mimpi?”, Ara bertanya dalam hatinya. 
Bermenit-menit mereka bertanya jawab tentang Riva. Hingga pukul  3:40 mereka baru akan pulang. Mereka berpisah masih dalam keadaan mata yang sembab.                                         



                                                                                                                                                                                                                                                  
  *Bersambung*

Firs Listen U're Voice (chapter 2)


Tak sengaja Ara membuka mata. Ia langsung duduk. Ia taj enak hati ada kakak kelas di sampingnya. Tiba-tiba, Kakak Riva menyentuhkan tangannya ke tangan Ara untuk mengetahui apakh Ara benar-benar panas demam. Ara terkejut. Ia langsung menarik tangannya. Karena ia tahu, jika bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrim itu  dosa. Melihat Ara seperti itu, Kakak Riva berkata,”Ya, ngga mungkin, kan, kalau aku sentuh dahimu.” Aras tak bias berfikir. Yang ada dibenaknya adalah Ia hanya ingin sembuh. Ara pun mengulurkan tangannya dengan penuh keraguan. Riva, yang ada di samping tempat tidur hanya bias melihat wajah Arad an kakaknya. Ia tertawa merinis melihat kelakuan teman sdan kakaknya. Disamping itu, Kakak Riva langsung mengambil paracetamol ke almari UKS. Sementara Riva mengambilkan air putih untuk Ara.

Riva memberikan air putih tersebut  kepada Ara. Setelah meminum obat, Riva dan kakaknya kembali ke kelasnya masing-masing.  Mereka mengikuti pelajaran dengan serius. Tetapi, ketika di tengah-tengah berfikir kritis, Kakak Riva yang sebenarnya bernama  Zain terbayang-bayang wajah Ara. Zain khawatir dengan keadaannya. Ia takut jika obat yang diberikannya tidak membuahkan hasil. Di samping itu, Riva memang bersungguh-bersunggguh  berniat mengikuti pelajaran. Ia berkata dalam hatinya, “Tak ada salahnya aku paham. Aku bias membagi ilmu kepada Ara.” Pelajaran berikutnya berlangsung dengan serius hingga, “Kring… kring….”, bel pulang sekolah berbunyi. Riva membereskan buku-bukunya ke dalam tasnya sekaligus membawakan tas Ara.
“Ara… Ara… apa kamu sudah sembuh?”,Tanya Riva dengan cemas berharap Ara sudah sembuh.
“Lumayan, udah aga enakan kok. Makasih, ya, Riva”, jawab Ara tersenyum.
“Ngga apa-apa kok. Kan kita harus saling membantu. Oh, iya nanti kalau ada pelajaran yang sulit dipahami, kamu bisa Tanya sama kok. Tadi aku serius banget ngikutin maple  hari ini”,  jelas Riva dengan tertawa manis.

            Tiba-tiba dari percakapan mereka berdua, terdengar sura langkah kaki menuju ruang UKS. Mereka berfikir itu adalah Pak Tukang yang selalu memeriksa semua ruangan setelah bjam pulang sekolah. Tetapi ternyata itu adalah Zain, Kakak Riva.
“Ha!!!”, kaget Riva setelah melihat wajah kakaknya itu.
“Kenapa kamu? Kaya ngelihat setan aja!”
“Engga… engga, aku piker memamang setan. Ups!”, ledek Riva mengejek.
“Aku mengajakmu pulang bareng, mau ngga? Atau malah naik  bis bareng Ara?”, basa-basi Zain kepada adiknya.
“Yah, Kakak.  Ara sekarang sudah pakai sepeda motor. Aku kapan? Masa nebeng lu mulu!”, keluh Riva kepada Kakaknya. Inisiatif, inovatif, dan kreatif, tiga kata yang selalu membuat Riva semangat untuk membaca. Terbayang difikarnnya. Tiba-tiba Riva menyeletus,  “Giman kalau kita antar Ara pulang, Kak?” Ara yang mendengar percakapan mereka  spontan menjawab, “Tidak, tidak usah. Aku bisa pulang senidri, kok!”
“Kamu harus kami antar. Kamu penolong adikku. Rumah kamu kan jauh. Apalagi kamu belum sembuh total”, Zain menyambung ucapan Ara.
“Tidak, Kak, makasih. Aku bias pulang sendiri kok”, jawab Ara meyakinkan Zain
“Tapi, Ra, badan kamu tuh masih panas, kamu harus pulang dengan kami. Lagian jalurrumsh kits kan sama”, tambah Riva yang juga memaksa Ara. Ara yang terus didesak akhinya luluh          juga. Dengan syarat, mereka langsung pulang ketika sampai di simpang tiga Sentolo. Mereka  pun beranjak dari  ruang UKS ke parkiran sepeda motor. Mereka mengambil sepeda motor masing-masing. Tentu saja, Ara yang paling dulu berjalan. Riva dan kakaknya menyusul di belakangnya.

             Denga kecepatan 60 km/jam, Desa Sentolo bisa ditempuh selama 15 menit. Ara yang berfikir mereka sudah pulang, ternyata mengantar Ara hingga di depan rumahnya. Ara memasukkan sepeda motornya  ke dalam parkiran. Ara keluar dan berkata, “Kenapa kalian sampai di sini? Ini sudah jam empat sore.” Riva turun dari sepeda motor kakaknya dan berkata, “Ara kami cemas dengan keadaanmu yang masih lemah. Ibumu ada?”
“Ibuku masih bekerja”, jawab Ara yang wajahn ya masih pucat.
“Ya, sudah, kami pulang dulu, ya, Ra”, pamit Riva kepada Ara.
“Riva!  Makasih banget, ya sudah antar aku pulang sampai rumah. Maaf banget aku udah ngerepotin kamu dan kakakmu”, sambung Ara kepada Riva. “Kak Zain, makasih, ya, udah mau bantuin Ara. Kalian hati-hati, ya, di jalan”, tambah Ara kepada Zain. Zain menganggukkan kepalanya. Riva dan kakaknya lalu pulang bersama.



*Bersambung*