Ara
memasuki rumahnya. Ia berganti pakaian. Ia merasa lelah. Lalu ia berbaring di
tempat tidurnya. Sore berganti malam. Malam berganti pagi. Pergantian cahaya
terus-menerus. Seperti biasa, Ara yang sudah sehat bergegas berangkat sekolah.
Bertemu teman-teman baru adalah hal mengasyikkan baginya. Siswa-siswi yang
berjumlah 32 anak itu sibuk deng pembicaraannya masing-masing diwaktu
istirahat. Tenang dan cekatan ketika menerima pelajaran . rajin, terampil yang
m,ebikin suasan kelas lebih indah. Kleadaan kelas X MA-1 (X Matematika Alam 1).
3 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam. Jam yang berputar. Mengelilingi setiap tepi
lingkaran jam. Sorak sorai suara anak-anak SMA setelah keluar dari kelasnya.
Begitulah keadaan SMAnya.
Anak-anak
SMA Dirga Bhakti 09 bergegas pulang. “Ara, tunggu!”, kata Riva mengejar Ara. “Ya,
Riv, kenpa?”, sahut Ara.
“Kamu udah tahu belum, kalau minggu
depan tepatnya hari Jumat anak-anak kelas sepuluh sudah disuruh untuk mengikuti eksul wajib, Pramuka”,
jelas Riva.
“Sudah. Memang kenapa?”, jawab Ara dengan santai.
“Eeh.. enga, engga apa-apa kok”, jawab Riva dengan wajah malu. Tiba-tiba
Zain yang sedang keluar dari parkiran teriak, “Riva! Ayo pulang!” riva menengok
kea rah suara itu.
“Kak Zain! Ah, dia itu”, gumam Riva
kesal. “Mmmm., Ara aku pulang duluan, ya. Maaf ngga bias pulang bareng naik
bis”, pamit Riva kepada Ara yang kebetulan tidak mengendarai sepeda motor tadi pagi.
“iya, hait-hati, ya”, kata Ara
tersenyum mereka berpisah di depan pintu
keluar sekolahnya dan Ara pulang sendirian.
Hari
berganti hari. Hari-hari yang dianggap Ara
penuh dengan hal-hal baru. Ia menyukainya. Jumat, hari dimana anak-anak
kelas X menjalani ekskul Pramuka. Kak Zain, ia merupakan Dewan Ambalan
angkatan 2012/2013. Mesakipunangkatan
2012/2013, ia tretap mengikuti pramuka untuk
membimbing Dewan Ambalan angkatan 2013/2014. Ketika itu pelajaran
tali-temali. DA angkatan 2013/2014 merasa bingung. Zain, salah satu yang ada di
sana membantunya. “Kak Zain, ini yang benar gimana?”, Tanya salah satu anggota
DA. Zain mempraktekkan sambil menjelaskan cara menyambung tongkat yang benar.
Tak disangka, Zain melihat Ara.
“Ehh, kamu Ara, kan yang waktu itu sakit?”, Tanya Zain kepada Ara. Ara hanya
menjawabnya dengan senyum dan anggukkan kepala. Mereka tak berbincang-bincang,
karena waktu yang mereka miliki hanya untuk kegiatan Pramuka saja, bukan yang
lainnya. Jam berganti jam. Jam 4 sore. Anak-anak pulang dari kegiatan Pramuka
itu.
Ara
yang pulang mengendarai sepeda motor
bertanya-tanya. Mengapa jantungnya selalu berdegup kencang ketika berdekatan
dengan Zain. Ia juga selalu terbayang-bayang wajah Zain. “Aku menyukainya!”, celetus Ara tak sengaja.
“Oh, my God. What happened to me? Whether I love Him?”, kata-katanya di rumah
dengan kebingungan, sambil mengadahkan mukanya ke langit-langit atap-atap.
Ara
selalu saja berpapasan dengan Kak Zain. Di pintu parkiran, di pintu gerbang
sekolah, di kelas Arad an Zain, dan di hall. Tapi apa yang terjad? Tak
sedikitpun terlukis senyum Ara yang manis itu kepada Zain. Mereka hanya saling
pandang. Mata menatap layaknya bibir ingin mengungkapkan kata-kata. Tapi, Ara
yang benar-benar menyukainya merasa canggung, gugup, deg-degan. Tak sepatah
kata pun terucap. Ia ingin sekali berbincang-bincang dengan Kak Zain, tyapi tak
dapat. “Oh, my God!”, keluh Ara selalu setelah berpapasan kepada Zain.
Di
rumah Ara sedang mengerjakan PR.
Tiba-tiba, bel rumahnya berbunyi. Ternyata Pak Pos yang mengantarkan
surat kepadanya. “Ara, temanku.
Hari-hari sebelumnya aku sakit. Maaf aku tak mengabarimu. Maafkan aku
jika selama kita berteman aku telah menggoreskan hatimu dengan kata-kataku. Aku
sudah pindah sekolah di Jakarta, karena aku harus berobat di sini. Entah kenapa
harus di Jakarta. Aku bingung dengan keluarga ini. Tak satupun dari mereka
member tahu penyakit yang kuderita ini. Ara, temanku, kau sudah aku anggap
sebagai sahabatku. Jangan lupa kepadaku, ya, jika aku kembali nanti. Tapi, kamu
tak usah kawatir, bukan berarti aku pindah, Kak Zain juga ikut pindah. Ia tak
mau pindah. Tanggung katanya. Ia tetap menjagamu kok. –RIVA– “
Ara
kaget. Ia merasa bersalah kepadanya.mengapa ia tak mencari tahu keadaan Riva.
Ara meninggalkan PRnya. Ara mencari hp ke kamarnya. Segera Ara mengirim pesan
kepada Riva. “Kamu kenapa? Maafkan aku. Aku tak menyadari jika kamu tak
bersngkat sekolah akhir-akhir ini. Setelah kita tak sekelas lagi karena ada
siswa yang pindah, aku jadi tak tahu kabarmu… Balas.” Ditunggu, ditungu, dan
ditunggu. Bermenit-menit tak ada balasan. Tiba-tiba, pesan masuk di hpnya. “Ini
aku, Zain. Riva menyuruhku membawa
hpnya”, pesan masuk dari Zain menggunakan nomor hp Riva. Bertambah kecemasan Ara. Ara diam,
diam, dan diam. “Teman macam apa aku ini!”, kata Ara menyalahkan dirinya.
Hari-hari
sekolah Ara terasa hampa tanpa Riva. Tak ada Riva yang selalu menemaninya
ketika istirahaaat. Walau merwka berbeda kelas, tetapi merka tetap selalu
bersama. Berhari-hari ia menunggu kabar
Riva. Hingga 2 minggu.
Waktu itu, “Ra!”, teriak Zain dari
arah belakang Ara.
Ara menengok ke arah suara itu. “Kak Zain! Ada
apa?”
“Riva… meninggal kemarin sore”,
jelas Zain kepada Ara.
Ara yang waktu itu lelah dan
langsung ingin cepat pulang ke rumah shock mendengar kabar dari Kak
Zain. Sahabatnya meninggal di ibu kota.
Ia tak bias melihat wajah saat terkhirnya. Ia tak bisa mengantarnya ke
pemakaman. Ia terduduk lemas di kursi hall sekolahnya. Events yang dulu pernah jalani mulai dari MOS
hingga seminggu sebelum Pramuka, candanya mereka ketika pulang bersama dengan
bis, manjanya Riva. Semua ter-flashback di memori Ara. Air matanya
mengalir semakin deras. Ia berusaha membendung air matanya. Tapi, tak bias. Ia
berlari menuju lapangan basket. Ara menangis tersedu-sedu. Zain mengejarnya.
Zain sabar dan kuat. Adiknya yang meninggalkannya untuk selamanya, yang selalu
manja dengan Zain. “Kak Zain ajarin matematika”, “Kak Zain ke rumah Ara, yuk”,
“Kak Zain bagaimana ini?” kata-kata Riva yang tak dapat terlupakan oleh Zain. Hari-hari
Riva bahagia setelah bertemu Ara. Zain
haruis merawat Ara seperti merawat Riva sendiri. Riva menitipkan sepucuk surat
untuk Zain. Surat itu berbunyi,
“Kak Zain… gimana kabarmu? Gimana kabar
Ara? Apa dia masih canggung berbicara denganmu? Kak Zain, Riva udah lelah. Riva
pengen ketemu kalian di Jogja. Riva kangen. Riva pengen kembali ke sana. Riva kangen
kalian….”
Zain
si kuat, berhasil membendung air matanya. Ia menenangkan sahabat adiknya. Zain mengusap
air mata Ara dengan tangannya. Zain mengasihinya seperti adikknya. “Kamu harus
kuat, Ra! Kamu ngga boleh menangisinya. Riva udah tenang di sana”, kata Zain
yang sedih menenangkan Ara.perlahan Ara berhenti menagis.
“Ia sakit apa, Kak?”, tanya Ara
kepada Zain.
“Leukimia. Empat tahun ia menderita.
Kamu yang sudah bikin Riva bahagia di
sini”, jelas Zain kepadanya.
“Apa yang terjadi Tuhan? Apa ini
mimpi?”, Ara bertanya dalam hatinya.
Bermenit-menit mereka bertanya jawab
tentang Riva. Hingga pukul 3:40 mereka
baru akan pulang. Mereka berpisah masih dalam keadaan mata yang sembab.
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar