FIRST LISTEN YOUR
VOICE
“Laki-laki
jatuh cinta oada pandangan pertama. Wanita jatuh cinta pada percakapan
pertama.” Kata-kata itu. Bagaikan kejora yang bersinar, sinarnya menembus
dinginnya pagi, semilirnya angin berhembus pagi. “Kring… Kring….”, tanda bel
masuk sekolah berbunyi. Para siswa didik baru bersiap mengikuti MOS. Ara,
seorang peserta MOS yang ramah, dan renfah hati menempatkan diri pada deret
baruisan pertama.
“Namaku Avis Rona As-Syifa”,
mulainya kepada Riva, salah satu peserta MOS.
“Ha! Ehh, maaf, aku tidak konsen. Aku Riva.
Aku harus panggil kamu apa?”, jawab Riva sambil terkaget-kaget.
“Keluargaku memanggilku Ara”, balas
Ara sambil tersenyum. Mereka pun duduk sambil mendengarkan materi MOS.
Tiba-tiba, salah satu kakak kelas member pertanyaan kepada Riva yang selalu
duduk melamun.
“Sudah tahu, Dek, jawabannya?”,
Tanya salah satu kakak kelas kepada Riva. Riva hanya diam saja dengan pandangan
kosong. “Riv… Riv….”, coba Ara menyadarkannya. Dengan kagetnya Riva langsung
berbicara,
“Snowman, Kak! Laki-laki yang penuh denagn
salju hidup.” Semua siswa pengikut MOS tertawa terbahak-bahak. Kakak kelas
tersebut menyambung jawaban Riva,
“Salju yang hidup? Salju itu benda
mati.”
“Emang apa sih, Kak?”, Tanya Riva.
“Laki-laki yang hidup di daerah bersalju, Dek”,
jawab kakak kelas tersebut. Riva menundukkan kepalanya. Ia malu dengan
tingkahnya. MOS berlangsung hingga pukul 1.00 WIB. Ara mendekati Riva dan
berkata,
“Kamu sakit? Kamu pusing?”.
Riva pun menjawab, “Tidak tidak. Aku
bingung bagaiman menghilangkan kebiasaan melamunku.”
“Itu mudah. Kau harus suka membaca. Dengan
selalu membaca, otak kitya tidak aka pernah kosong. Kau suka membaca kan?”,
Tanya Ara kepadanya.
“Dulu, ketika SD hobiku membaca.
Tetapi, setelah SMP, aku jarang membaca”, jelas Riv. Ketika SMP, Riva adalah
anak yang pendiam dan pasif. Tak seperti ketika
SD dahulu.
“Ah, sudahlah. Tak usah dipikirkan”, cetus
Riva.
“Apanya?”, sahut Ara.
“Ah, tidak.. tidak”, kata Riva
mengakhiri percakapannya. Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan
pulang. Kebetulan arah jalan rumah Ara dan Riva satu jalur. Mereka pulangg naik
bus bersama.
“Ayo, Ara, kita naik bus yang ini
saja”, ajak Riva kepada Ara.
“Ya, sudah. Ayo, Riv.”, tanda Ara
menyetujuinya. Biis mulai berjalan. Ara dan Riva berbincang-bincang dengan
serunya. Lukisan garis wajah Ara yang manis
dan cantik selalu terlihat ketika berbincang-bincang dengan Riva.
“Ara,
ngomong-ngomong kamu itu anak keberapa sih?”, tanya Riva kepada Ara. Ara
menjawab, “Aku anak pertama dari tiga bersaudara.” “Saudaramu cowo atau cewe?”,
sambung Riva. Ara menjawab lahi, “Cewe semua.” “Oh, ya? Wah enak, ya, punya
adik cewe. Bias diajak curhat.”, kata Riva dengan cemberut. “Ya, begitulah.
Memang saudara kamu laki-laki?”, Tanya Ara. “Iya, aku Cuma punya kakak
laki-laki. Dia kelas 3 SMA di sekolah kita.”, jelas Riva. Ara pun menyambung
penjelasannya, “Oh, ya? Wah, enak dong. Kamu bias minta ajarin buat ngerjain
soal-soal yang sulit…”. “Iya, sih. Tapi dia Cuma mau focus untuk UN saja.jadi,
ngga ada temen curhat…”, jelas Riva sambil cemberut. Ara yang baik hati mencoba
melegakan hati teman barunya itu. Tiba-tiba kernet bis berkata, “Yo… yo… Sentolo... Sentolo…”. Tak terasa perjalanan pulang ke rumah Ara sudah sampai.
Waktu 25 menit hanya dirasakan selama 10 menit karena asiknya mereka
berbincang-bincang. “Aku duluan, ya, Riv”,kata Ara diperpisahan jalan. “OK.
Sampai jumpa…”, sahut Riva.
5
Agustu, 6 Agustus, 7 Agustus. Hari MOS mereka sudah berakhir. 8 Agustus, Arad
an Riva mendapat keberuntungan. Mereka ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Tentunya
mereka bahagia. Etak-detik jam kelas seiring detang ajntung Ara. Ara merasa
terlalu lelah. Sebelum berangkat, ia harus selalu mengerjakan pekerjaan
rumahnya dahulu. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya putih pecah. “Kring… kring…”,
bel istirhat bebrunyi. Riva yang duduk disampng Ara, tak sengaja menyenggol
tangannya. “Ya, Allah, Ara! Kamu… wajah kamu, bibir kamu. Kamu sakit? Aku antar
ke UKS, ya.”, kta Riva kepada Ara dengancemas. Ara hanya menjawab, “Tidak usah.
Ini hanya hanya pusing saja.” Dengan tegas Riva membantah, “Tidak, Ra. Badan
kamu sangat panas. Ayo aku antar.”. ara tetap kokoh untuk tidak mau ke UKS. Ia
tidak ingin ketinggalan satu materi
pelajaran. Tetapi, Riva adalah teman yang sejati. Ia, tak mungkin
membiarkan sahabatnya tak ceria. Ia tetap bersedia, ingin Ara sembuh. Karena
Ara adalah teman baru yang telah membuat kebiasaan melamunnya hilang. Ara
akhirnya menyetujuinya. Digandengnya tangan Ara ke UKS.
“Bentar,
ya, Ara. Aku hanya tahu sedikit tentang pbat-obatan.aku akan memanggil kakakku.
Kamu tiduran dulu”, kata Riva sambil
berlari kecil keluar UKS. Beberapa menit kemudian, Riva menggeret-nggeret
tangan kakakknya masuk ke ruang UKS. Dengan berat hati Kakak Riva pun menurutinya.
“Ini, Kak, temenku yang aku certain sama
Kakak”, kata Riva kepada kakaknya.
“Ya, terus kenapa? Ini sudah bel
masuk. Kakak harus masuk kelas. Ini sekolah, bukan taman tempat kamu bermain,
Riva”, sahut Kakak Riva. Dengan kesalnya Riva menjawab,
“Ih, Kakak. Aku kurang paham
dengan obat-obatan. Aku minta bantuan
kakak., obat apa yang bias ngurangin rasa sakit pada tubuh Ara? Badannya panas,
Kak!”
Kakak Riva pun menoleh kepada Ara
yang sedang terbaring lemah. Sedangkan Ara
hanya bisa memejamkan mata karena menahan rasa panas demam pada tubuhnya.
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar