TWEET

Selasa, 18 Maret 2014

First Listen U're Voice (chapter 1)

FIRST LISTEN YOUR VOICE


“Laki-laki jatuh cinta oada pandangan pertama. Wanita jatuh cinta pada percakapan pertama.” Kata-kata itu. Bagaikan kejora yang bersinar, sinarnya menembus dinginnya pagi, semilirnya angin berhembus pagi. “Kring… Kring….”, tanda bel masuk sekolah berbunyi. Para siswa didik baru bersiap mengikuti MOS. Ara, seorang peserta MOS yang ramah, dan renfah hati menempatkan diri pada deret baruisan pertama.
“Namaku Avis Rona As-Syifa”, mulainya kepada Riva, salah satu peserta MOS.
 “Ha! Ehh, maaf, aku tidak konsen. Aku Riva. Aku harus panggil kamu apa?”, jawab Riva sambil terkaget-kaget.
“Keluargaku memanggilku Ara”, balas Ara sambil tersenyum. Mereka pun duduk sambil mendengarkan materi MOS. Tiba-tiba, salah satu kakak kelas member pertanyaan kepada Riva yang selalu duduk melamun.
“Sudah tahu, Dek, jawabannya?”, Tanya salah satu kakak kelas kepada Riva. Riva hanya diam saja dengan pandangan kosong. “Riv… Riv….”, coba Ara menyadarkannya. Dengan kagetnya Riva langsung berbicara,
 “Snowman, Kak! Laki-laki yang penuh denagn salju hidup.” Semua siswa pengikut MOS tertawa terbahak-bahak. Kakak kelas tersebut menyambung jawaban Riva,
“Salju yang hidup? Salju itu benda mati.”
 “Emang apa sih, Kak?”, Tanya Riva.
 “Laki-laki yang hidup di daerah bersalju, Dek”, jawab kakak kelas tersebut. Riva menundukkan kepalanya. Ia malu dengan tingkahnya. MOS berlangsung hingga pukul 1.00 WIB. Ara mendekati Riva dan berkata,
 “Kamu sakit? Kamu pusing?”.
Riva pun menjawab, “Tidak tidak. Aku bingung bagaiman menghilangkan kebiasaan melamunku.”
 “Itu mudah. Kau harus suka membaca. Dengan selalu membaca, otak kitya tidak aka pernah kosong. Kau suka membaca kan?”, Tanya Ara kepadanya.
“Dulu, ketika SD hobiku membaca. Tetapi, setelah SMP, aku jarang membaca”, jelas Riv. Ketika SMP, Riva adalah anak yang pendiam dan pasif. Tak seperti ketika  SD dahulu.
 “Ah, sudahlah. Tak usah dipikirkan”, cetus Riva.
 “Apanya?”, sahut Ara.
“Ah, tidak.. tidak”, kata Riva mengakhiri percakapannya. Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan pulang. Kebetulan arah jalan rumah Ara dan Riva satu jalur. Mereka pulangg naik bus bersama.
“Ayo, Ara, kita naik bus yang ini saja”, ajak Riva kepada Ara.
 “Ya, sudah. Ayo, Riv.”, tanda Ara menyetujuinya. Biis mulai berjalan. Ara dan Riva berbincang-bincang dengan serunya. Lukisan garis wajah Ara yang manis  dan cantik selalu terlihat ketika berbincang-bincang dengan Riva. 

“Ara, ngomong-ngomong kamu itu anak keberapa sih?”, tanya Riva kepada Ara. Ara menjawab, “Aku anak pertama dari tiga bersaudara.” “Saudaramu cowo atau cewe?”, sambung Riva. Ara menjawab lahi, “Cewe semua.” “Oh, ya? Wah enak, ya, punya adik cewe. Bias diajak curhat.”, kata Riva dengan cemberut. “Ya, begitulah. Memang saudara kamu laki-laki?”, Tanya Ara. “Iya, aku Cuma punya kakak laki-laki. Dia kelas 3 SMA di sekolah kita.”, jelas Riva. Ara pun menyambung penjelasannya, “Oh, ya? Wah, enak dong. Kamu bias minta ajarin buat ngerjain soal-soal yang sulit…”. “Iya, sih. Tapi dia Cuma mau focus untuk UN saja.jadi, ngga ada temen curhat…”, jelas Riva sambil cemberut. Ara yang baik hati mencoba melegakan hati teman barunya itu. Tiba-tiba kernet bis berkata, “Yo… yo… Sentolo... Sentolo…”. Tak terasa perjalanan pulang ke rumah Ara sudah sampai. Waktu 25 menit hanya dirasakan selama 10 menit karena asiknya mereka berbincang-bincang. “Aku duluan, ya, Riv”,kata Ara diperpisahan jalan. “OK. Sampai jumpa…”, sahut Riva.

5 Agustu, 6 Agustus, 7 Agustus. Hari MOS mereka sudah berakhir. 8 Agustus, Arad an Riva mendapat keberuntungan. Mereka ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Tentunya mereka bahagia. Etak-detik jam kelas seiring detang ajntung Ara. Ara merasa terlalu lelah. Sebelum berangkat, ia harus selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya dahulu. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya putih pecah. “Kring… kring…”, bel istirhat bebrunyi. Riva yang duduk disampng Ara, tak sengaja menyenggol tangannya. “Ya, Allah, Ara! Kamu… wajah kamu, bibir kamu. Kamu sakit? Aku antar ke UKS, ya.”, kta Riva kepada Ara dengancemas. Ara hanya menjawab, “Tidak usah. Ini hanya hanya pusing saja.” Dengan tegas Riva membantah, “Tidak, Ra. Badan kamu sangat panas. Ayo aku antar.”. ara tetap kokoh untuk tidak mau ke UKS. Ia tidak ingin ketinggalan satu materi  pelajaran. Tetapi, Riva adalah teman yang sejati. Ia, tak mungkin membiarkan sahabatnya tak ceria. Ia tetap bersedia, ingin Ara sembuh. Karena Ara adalah teman baru yang telah membuat kebiasaan melamunnya hilang. Ara akhirnya menyetujuinya. Digandengnya tangan Ara ke UKS.

“Bentar, ya, Ara. Aku hanya tahu sedikit tentang pbat-obatan.aku akan memanggil kakakku. Kamu tiduran dulu”,  kata Riva sambil berlari kecil keluar UKS. Beberapa menit kemudian, Riva menggeret-nggeret tangan kakakknya masuk ke ruang UKS. Dengan  berat hati Kakak Riva pun menurutinya.
“Ini, Kak, temenku yang aku certain sama Kakak”, kata Riva kepada kakaknya.
“Ya, terus kenapa? Ini sudah bel masuk. Kakak harus masuk kelas. Ini sekolah, bukan taman tempat kamu bermain, Riva”, sahut Kakak Riva. Dengan kesalnya Riva menjawab,
“Ih, Kakak. Aku kurang paham dengan  obat-obatan. Aku minta bantuan kakak., obat apa yang bias ngurangin rasa sakit pada tubuh Ara? Badannya panas, Kak!”
Kakak Riva pun menoleh kepada Ara yang sedang  terbaring lemah. Sedangkan Ara hanya bisa memejamkan mata karena menahan rasa panas demam pada tubuhnya. 



*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar