TWEET

Selasa, 18 Maret 2014

Firs Listen U're Voice (chapter 2)


Tak sengaja Ara membuka mata. Ia langsung duduk. Ia taj enak hati ada kakak kelas di sampingnya. Tiba-tiba, Kakak Riva menyentuhkan tangannya ke tangan Ara untuk mengetahui apakh Ara benar-benar panas demam. Ara terkejut. Ia langsung menarik tangannya. Karena ia tahu, jika bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrim itu  dosa. Melihat Ara seperti itu, Kakak Riva berkata,”Ya, ngga mungkin, kan, kalau aku sentuh dahimu.” Aras tak bias berfikir. Yang ada dibenaknya adalah Ia hanya ingin sembuh. Ara pun mengulurkan tangannya dengan penuh keraguan. Riva, yang ada di samping tempat tidur hanya bias melihat wajah Arad an kakaknya. Ia tertawa merinis melihat kelakuan teman sdan kakaknya. Disamping itu, Kakak Riva langsung mengambil paracetamol ke almari UKS. Sementara Riva mengambilkan air putih untuk Ara.

Riva memberikan air putih tersebut  kepada Ara. Setelah meminum obat, Riva dan kakaknya kembali ke kelasnya masing-masing.  Mereka mengikuti pelajaran dengan serius. Tetapi, ketika di tengah-tengah berfikir kritis, Kakak Riva yang sebenarnya bernama  Zain terbayang-bayang wajah Ara. Zain khawatir dengan keadaannya. Ia takut jika obat yang diberikannya tidak membuahkan hasil. Di samping itu, Riva memang bersungguh-bersunggguh  berniat mengikuti pelajaran. Ia berkata dalam hatinya, “Tak ada salahnya aku paham. Aku bias membagi ilmu kepada Ara.” Pelajaran berikutnya berlangsung dengan serius hingga, “Kring… kring….”, bel pulang sekolah berbunyi. Riva membereskan buku-bukunya ke dalam tasnya sekaligus membawakan tas Ara.
“Ara… Ara… apa kamu sudah sembuh?”,Tanya Riva dengan cemas berharap Ara sudah sembuh.
“Lumayan, udah aga enakan kok. Makasih, ya, Riva”, jawab Ara tersenyum.
“Ngga apa-apa kok. Kan kita harus saling membantu. Oh, iya nanti kalau ada pelajaran yang sulit dipahami, kamu bisa Tanya sama kok. Tadi aku serius banget ngikutin maple  hari ini”,  jelas Riva dengan tertawa manis.

            Tiba-tiba dari percakapan mereka berdua, terdengar sura langkah kaki menuju ruang UKS. Mereka berfikir itu adalah Pak Tukang yang selalu memeriksa semua ruangan setelah bjam pulang sekolah. Tetapi ternyata itu adalah Zain, Kakak Riva.
“Ha!!!”, kaget Riva setelah melihat wajah kakaknya itu.
“Kenapa kamu? Kaya ngelihat setan aja!”
“Engga… engga, aku piker memamang setan. Ups!”, ledek Riva mengejek.
“Aku mengajakmu pulang bareng, mau ngga? Atau malah naik  bis bareng Ara?”, basa-basi Zain kepada adiknya.
“Yah, Kakak.  Ara sekarang sudah pakai sepeda motor. Aku kapan? Masa nebeng lu mulu!”, keluh Riva kepada Kakaknya. Inisiatif, inovatif, dan kreatif, tiga kata yang selalu membuat Riva semangat untuk membaca. Terbayang difikarnnya. Tiba-tiba Riva menyeletus,  “Giman kalau kita antar Ara pulang, Kak?” Ara yang mendengar percakapan mereka  spontan menjawab, “Tidak, tidak usah. Aku bisa pulang senidri, kok!”
“Kamu harus kami antar. Kamu penolong adikku. Rumah kamu kan jauh. Apalagi kamu belum sembuh total”, Zain menyambung ucapan Ara.
“Tidak, Kak, makasih. Aku bias pulang sendiri kok”, jawab Ara meyakinkan Zain
“Tapi, Ra, badan kamu tuh masih panas, kamu harus pulang dengan kami. Lagian jalurrumsh kits kan sama”, tambah Riva yang juga memaksa Ara. Ara yang terus didesak akhinya luluh          juga. Dengan syarat, mereka langsung pulang ketika sampai di simpang tiga Sentolo. Mereka  pun beranjak dari  ruang UKS ke parkiran sepeda motor. Mereka mengambil sepeda motor masing-masing. Tentu saja, Ara yang paling dulu berjalan. Riva dan kakaknya menyusul di belakangnya.

             Denga kecepatan 60 km/jam, Desa Sentolo bisa ditempuh selama 15 menit. Ara yang berfikir mereka sudah pulang, ternyata mengantar Ara hingga di depan rumahnya. Ara memasukkan sepeda motornya  ke dalam parkiran. Ara keluar dan berkata, “Kenapa kalian sampai di sini? Ini sudah jam empat sore.” Riva turun dari sepeda motor kakaknya dan berkata, “Ara kami cemas dengan keadaanmu yang masih lemah. Ibumu ada?”
“Ibuku masih bekerja”, jawab Ara yang wajahn ya masih pucat.
“Ya, sudah, kami pulang dulu, ya, Ra”, pamit Riva kepada Ara.
“Riva!  Makasih banget, ya sudah antar aku pulang sampai rumah. Maaf banget aku udah ngerepotin kamu dan kakakmu”, sambung Ara kepada Riva. “Kak Zain, makasih, ya, udah mau bantuin Ara. Kalian hati-hati, ya, di jalan”, tambah Ara kepada Zain. Zain menganggukkan kepalanya. Riva dan kakaknya lalu pulang bersama.



*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar