Tak
sengaja Ara membuka mata. Ia langsung duduk. Ia taj enak hati ada kakak kelas
di sampingnya. Tiba-tiba, Kakak Riva menyentuhkan tangannya ke tangan Ara untuk
mengetahui apakh Ara benar-benar panas demam. Ara terkejut. Ia langsung menarik
tangannya. Karena ia tahu, jika bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrim
itu dosa. Melihat Ara seperti itu, Kakak
Riva berkata,”Ya, ngga mungkin, kan, kalau aku sentuh dahimu.” Aras tak bias berfikir.
Yang ada dibenaknya adalah Ia hanya ingin sembuh. Ara pun mengulurkan tangannya
dengan penuh keraguan. Riva, yang ada di samping tempat tidur hanya bias melihat
wajah Arad an kakaknya. Ia tertawa merinis melihat kelakuan teman sdan kakaknya.
Disamping itu, Kakak Riva langsung mengambil paracetamol ke almari UKS. Sementara
Riva mengambilkan air putih untuk Ara.
Riva
memberikan air putih tersebut kepada
Ara. Setelah meminum obat, Riva dan kakaknya kembali ke kelasnya
masing-masing. Mereka mengikuti
pelajaran dengan serius. Tetapi, ketika di tengah-tengah berfikir kritis, Kakak
Riva yang sebenarnya bernama Zain
terbayang-bayang wajah Ara. Zain khawatir dengan keadaannya. Ia takut jika obat
yang diberikannya tidak membuahkan hasil. Di samping itu, Riva memang
bersungguh-bersunggguh berniat mengikuti
pelajaran. Ia berkata dalam hatinya, “Tak ada salahnya aku paham. Aku bias membagi
ilmu kepada Ara.” Pelajaran berikutnya berlangsung dengan serius hingga, “Kring…
kring….”, bel pulang sekolah berbunyi. Riva membereskan buku-bukunya ke dalam
tasnya sekaligus membawakan tas Ara.
“Ara… Ara… apa kamu sudah sembuh?”,Tanya
Riva dengan cemas berharap Ara sudah sembuh.
“Lumayan, udah aga enakan kok. Makasih,
ya, Riva”, jawab Ara tersenyum.
“Ngga apa-apa kok. Kan kita harus
saling membantu. Oh, iya nanti kalau ada pelajaran yang sulit dipahami, kamu bisa
Tanya sama kok. Tadi aku serius banget ngikutin maple hari ini”, jelas Riva dengan tertawa manis.
Tiba-tiba
dari percakapan mereka berdua, terdengar sura langkah kaki menuju ruang UKS. Mereka
berfikir itu adalah Pak Tukang yang selalu memeriksa semua ruangan setelah bjam
pulang sekolah. Tetapi ternyata itu adalah Zain, Kakak Riva.
“Ha!!!”, kaget Riva setelah melihat
wajah kakaknya itu.
“Kenapa kamu? Kaya ngelihat setan
aja!”
“Engga… engga, aku piker memamang
setan. Ups!”, ledek Riva mengejek.
“Aku mengajakmu pulang bareng, mau
ngga? Atau malah naik bis bareng Ara?”,
basa-basi Zain kepada adiknya.
“Yah, Kakak. Ara sekarang sudah pakai sepeda motor. Aku kapan?
Masa nebeng lu mulu!”, keluh Riva kepada Kakaknya. Inisiatif, inovatif, dan
kreatif, tiga kata yang selalu membuat Riva semangat untuk membaca. Terbayang difikarnnya.
Tiba-tiba Riva menyeletus, “Giman kalau
kita antar Ara pulang, Kak?” Ara yang mendengar percakapan mereka spontan menjawab, “Tidak, tidak usah. Aku bisa
pulang senidri, kok!”
“Kamu harus kami antar. Kamu penolong
adikku. Rumah kamu kan jauh. Apalagi kamu belum sembuh total”, Zain menyambung
ucapan Ara.
“Tidak, Kak, makasih. Aku bias pulang
sendiri kok”, jawab Ara meyakinkan Zain
“Tapi, Ra, badan kamu tuh masih
panas, kamu harus pulang dengan kami. Lagian jalurrumsh kits kan sama”, tambah
Riva yang juga memaksa Ara. Ara yang terus didesak akhinya luluh juga. Dengan syarat, mereka langsung
pulang ketika sampai di simpang tiga Sentolo. Mereka pun beranjak dari ruang UKS ke parkiran
sepeda motor. Mereka mengambil sepeda motor masing-masing. Tentu saja, Ara yang
paling dulu berjalan. Riva dan kakaknya menyusul di belakangnya.
Denga
kecepatan 60 km/jam, Desa Sentolo bisa ditempuh selama 15 menit. Ara yang
berfikir mereka sudah pulang, ternyata mengantar Ara hingga di depan rumahnya. Ara
memasukkan sepeda motornya ke dalam
parkiran. Ara keluar dan berkata, “Kenapa kalian sampai di sini? Ini sudah jam
empat sore.” Riva turun dari sepeda motor kakaknya dan berkata, “Ara kami
cemas dengan keadaanmu yang masih lemah. Ibumu ada?”
“Ibuku masih bekerja”, jawab Ara
yang wajahn ya masih pucat.
“Ya, sudah, kami pulang dulu, ya, Ra”,
pamit Riva kepada Ara.
“Riva! Makasih banget, ya sudah antar aku pulang
sampai rumah. Maaf banget aku udah ngerepotin kamu dan kakakmu”, sambung Ara
kepada Riva. “Kak Zain, makasih, ya, udah mau bantuin Ara. Kalian hati-hati,
ya, di jalan”, tambah Ara kepada Zain. Zain menganggukkan kepalanya. Riva dan
kakaknya lalu pulang bersama.
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar